Bab 1: Pertemuan Pertama
Meong.. meong.. meong
Kiki (kucing Aluna) naik ketempat tidur Aluna dan berusaha membangunkan Aluna dari tidurnya, mencoba menghentikan mimpi yang sedang membuat ia lupa akan dunia nyatanya.
Setelah beberapa kali Kiki mencoba membangunkan dengan suara meongnya, Kiki mulai manja, ia naik ke perut Aluna, dan tiduran disana. Aluna merasa geli, dan Alunapun bangun.
“Pagi Kiki..” Dengan mata yang masih setengah terbuka, Aluna menggendong Kiki dan mengelus tubuh Kiki.
Drrrt.. Drrtt..
Ponsel Aluna berdering. Setelah ia menurunkan Kiki dari pangkuannya, Aluna mengangkat
panggilan dari Risa (sahabat Aluna)
“Hallo Ris, ada apa?” Tanya Aluna bingung, karna tidak biasanya ia menelfon sepagi ini.
“Alunaaaa! Lo harus siap-siap sekarang! Jangan bilang lo baru bangun?” Aluna terkejut, dan
takut terjadi sesuatu.
“Ada apa? Iya, gue baru bangun.. hhe” jawab Aluna yang sedang mencoba untuk tenang.
“Ih lo tuh ya, kebiasaan. Mentang-mentang hari libur! Lo ga sholat subuh ya?” tanya Risa
heran.
“Enggaklah..” jawab Aluna santai
“Idihh.. lo beneran ga sholat? Lo lagi palang merah?” tebak Risa
“Yups, that’s right” jawab Aluna santai
“Hemm, pantes. Lun, lo siap siap ih, kita kan mau ke toko buku” Risa sedikit kesal dengan
Aluna yang sulit mengubah kebiasaan buruknya, di hari libur.
“Oh iya, gue lupa Ris. Hehe” Aluna baru ingat setelah diingatkan oleh Risa.
“Tuh kan pake lupa segala. Udah mendingan lo mandi, terus lo siap-siap, abis itu lo
berangkat. Untung gue belum otw, ntar gue jadi manekin berlumut di sana.” Ucap Risa.
“Siap komandan!” Jawab Aluna yang sok jadi tentara.
“Cepetan Lun, ih ntar keburu siang, kan panas.” Risa makin kesal, dan akhirnya menutup
telfonnya.
Beep
Aluna mandi, dan siap-siap untuk pergi menemani Risa ke toko buku. Setelah siap, Aluna
turun dan menemui mamanya. Di bawah, Mamanya sedang membuat puding kesukaan
Aluna, iya puding cokelat. Aluna suka sekali dengan puding cokelat buatan Mamanya.
“Ma, Luna mau ke toko buku ya?”
Ia harap, Mamanya setuju. Pasalnya, kemarin Mamanya
bilang Aluna harus bantuin Mamanya beres-beres rumah, dan saat itu, Aluna meng-iyakan
perkataan Mamanya itu.
“Sama Risa?” Tanya Mamanya.
“Iya Ma, boleh ya?” Aluna takut tidak diizinkan. Kalau Aluna tidak diizinkan, pasti Risa
marah, Aluna sudah terlanjur janji akan menemani Risa ke toko buku.
“Pulang jam berapa?” tanya Mama Risa
Risa semakin deg-degan, kali ini Mamanya terlihat benar-benar serius.
“Sebentar ko Ma, zuhur mungkin Luna sudah pulang.” Jawab Aluna.
“Mama tanya jam berapa sayang bukan kapan” Pertanyaan Mama Aluna diperjelas. Membuat
Aluna semakin takut tidak diizinkan.
“Jam 11an Ma, Boleh ya? Aluna juga ingin beli buku”
Aluna merengek minta diizinkan.
“Boleh tidak ya?” Mamanya mencoba mengggoda Luna yang merengek seperti anak kecil
minta diibelikan permen.
“Ihh Mama.. Boleh kan?”
“Iya, boleh sayang, tapi nanti setelah pergi, bantuin Mama nyetrika ya” Jawab Mama Luna.
“Iya Ma, nanti Luna bantu setrikain baju kok. Makasih Ma..”
Setelah meminta izin, Aluna sarapan pagi, ya walaupun ini sudah jam 10, lewat dari waktu sarapan. Aluna tetap menganggap ini adalah sarapan. Setelah Aluna sarapan dengan sandwich dan susu, ia
berpamitan kepada Mamanya, dengan cepat, Aluna menuruni tangga garasi dan mengambil kunci motor, ia men-starter motornya, dan ia tancap gas pergi menemui Risa.
Seperti biasa, Aluna berlari bersama jeki (motornya) dengan cepat, karna menurutnya, kalau membawa motor dengan pelan, itu sulit, dan memakan waktu yang cukup lama. Dia terbiasa membawa jeki seperti orang kesetanan, jika ia membawa jeki dengan pelan-pelan, ia merasa kagok, rasanya seperti berjalan di kemacetan, sulit.
“Assalamualaikum Risa...” salam Aluna kepada Risa, sambil tersenyum.
“Waalaikumsalam Luna..” jawab Risa.
Sambil menjawab senyum Luna, dia sedikit heran dengan sahabatnya yang satu ini, tidak biasanya dia senyum seperti ini, senyum yang merekah, seperti orang mendapat uang kaget senilai miliyaran rupiah.
“Kenapa? Tumben lo senyum sampe kayak gitu?” tanya Risa penasaran.
“Hemm.. gue ga papa ko.” Jawab Aluna tetap dengan senyumnya itu.
“Serah lo deh, udah ayo cepetan masuk, nanti keburu siang..!” Risa memang seseorang yang jutek, bahkan dikelasnya, ia dijuluki “singa betina” oleh laki-laki di kelas.
“iyaiya, ayo..” Aluna meng-iyakan.
Mereka memasuki toko tersebut, dan mencari buku yang mereka cari, setelah mendapatkan semua buku yang mereka cari, mereka tidak langsung membayarkan ke kasir. Mereka membaca beberapa buku yang telah mereka pilih. Karna sudah langganan ke toko ini, Risa dan Aluna memiliki nomor ponsel si penjaga toko, dan setiap ingin pergi kesini, Risa selalu memesan kepada si penjaga, agar bangku yang biasa ia tempati tidak di tempatkan oleh orang lain.
Setelah sampai di tempat duduk tersebut, mereka kesal, bukankah Risa sudah memesan kepada pak Taji (penjaga toko) agar tempat itu tidak di tempati orang lain? tapi, ini siapa? Apa pak Taji tidak memberitahunya untuk tidak menduduki tempat ini, pasalnya, di meja yang ia tempati Risa menyimpan beberapa kertas yang berisi catatan penting dari buku-buku yang pernah ia baca. Risa tidak bisa dengan mudah mengambilnya, ia termasuk seseorang yang sulit berbicara dengan orang asing. Alunapun begitu, mereka kesal dan Risa menelfon pak Taji, untuk menanyakan hal ini, tapi, ponsel pak Taji tidak aktif. Aluna memberanikan diri untuk bertanya pada pria tersebut.
“Maaf, ini tempat duduk kami, bisakah anda pindah dari tempat ini?” Aluna berbica dengan sangat hati-hati, walaupun mungkin bahasanya kurang sopan, karan itu sama saja seperti mengusir pria tersebut dari tempat duduk itu.
“Maaf, bukankah ini tempat umum? Saya bisa duduk dimana sajakan?” bela pria terasebut.
Memang benar, ini tempat umum, tapi, kami sudah memesannya, dan sebenarnya kami juga tidak enak hati, karna tiba-tiba datang dan mengusirnya.
“tapi, kami sudah memesan kepada penjaga toko agar tempat ini tidak di tempati.” Bela Aluna
“Tapi, tidak ada seorang pun penjaga toko yang mengatakan hal apapun kepada saya, apalagi tentang tempat ini.” Jelas pria itu.
Ia tetap duduk santai sambil membaca buku-bukunya. Ia seperti tidak memperdulikan hal yang mengganggunya.
“Lo tuh ya, ngomong aja ga bisa, sini biar gue aja yang ngomong sama tuh orang.” Bisik Risa kepada Aluna.
“Mas, kalau mas tidak ingin pergi bisakah kami bergabung?” Tanya Risa penuh harap, karena sudah tidak ada tempat duduk yang kosong disini.
“Kok tumben lo bisa nanya baik-baik? Kenapa kalo sama gue kayaknya lo kesel banget?” tanya Aluna heran.
“Aluna, kalau lo bicara sama nih cowok dengan ketus, dia gak akan mau berbagi tempat, dan gak akan memperdulikan kita, lagipula, dia ganteng ko, jadi gapapa lah, sekalian buat pemandangan kalo lagi pusing baca buku.” Kata Risa Panjang lebar.
“Idih.. lo tuh ya, genit juga lo ternyata. Terus si Adam mau di kemanain?”
“Adam? Ada kok, gue kantongin dulu aja..” jawab Risa santai.
Adam adalah pacar Risa, mereka sudah sejak SMP kelas 2 berpacaran, namun Aluna? Aluna masih saja bergelar “jomblo‟. Walaupun, ia memang jomblo, tetapi, ia tidak ingin dibilang jomblo, ia menganggap, bahwa ia itu “single‟, bukan “jomblo‟. Karna, neneknya bilang orang jaman dulu menyebut “jomblo‟ itu sebutan untuk orang yang gak bisa apa-apa. Yang benar-benar pemalas dan nasibnya miris, Aluna tidak ingin hal itu terjadi padanya, makannya, ia suka kesal kalau dibilang jomblo.
“Kasihan Adam malang banget nasibnya.”
“Gimana mas, boleh?” Risa tidak memperdulikan omongan sahabatnya itu, ia hanya ingin segera duduk, dan membaca buku-buku yang ia pilih.
“Kalau ingin bergabung, silahkan, kenapa tidak bilang dari awal? Kenapa harus berbicara panjang lebar?” tanya pria tersebut, heran dengan tingkah ke dua wanita ini.
“Tuhkan, dia masih aja gak ngerti, dia malah ngira kita yang memulainya.”
“Kalian ingin duduk atau terus berdiri?” Pria itu kesal dengan mereka, yang
mengganggunya.
Sebenarnya, bukan hanya dia yang merasa terganggu, orang-orang di toko ini juga merasa terganggu akibat ulah mereka.
“Eh, i.. iya. Terima kasih.” Kata mereka gugup, karna malu, hampir semua orang yang ada di toko memperhatikan mereka.
Setelah mereka merasa cukup puas membaca beberapa buku yang akan mereka beli, mereka pun bergegas untuk pulang. Mereka merapihkan buku-buku, dan segera membayarnya ke kasir.
“Assalamualaikum mbak Tanu.. apa kabar?” sapa Risa kepada mbak Tanu (kasir).
“Waalaikum salam Risa.. Alhamdulillah, baik. Bagaimana dengan kabar kalian?” tanya mbak Tanu.
Mereka memang sudah akrab dengan mbak Tanu, karena mereka sering mengunjungi toko ini.
“Alhamdulillah, baik” jawab mereka bersamaan.
“Mbak, Pak Taji kemana ya?” tanya Aluna, karna dari pertama ia memasuki toko, ia tidak melihat pak Taji disini.
“Pak Taji sedang pergi keluar, katanya ada urusan.” Jelas mbak Tanu.
“Pantas saja, dari tadi aku tidak melihat pak Taji.” Kata Aluna sambil memberikan kartu ATM untuk membayar buku-bukunya.
Setelah selesai membayar, Risa dan Aluna segera pulang ke rumah Aluna. Dia harus menepati janjinya kepada Mamanya. Tapi, ketika Aluna balik badan..
BRUUUK..
Ia menabrak seseorang, buku-buku yang ia beli berserakan dilantai. ATM!? ATM Aluna ikut terjatuh, ia mencari kemana ATMnya namun tidak ditemukan, Aluna dan Risa merapikan buku-buku yang terjatuh, dan ketika ia sedikit menonggak, ia melihat seseorang yang ia tabrak. Ya, itu pria yang tadi. Pria yang merebut tempat mereka. Walaupun ia mau berbagi tempat dengan mereka, tapi Aluna masih merasa kesal dengannya.
“Mbak, kalau jalan hati-hati dong..!
Comment Now
0 comments